riryby

aparecium

What Made You Smile Today?

So, I am starting to write again. After a quite long time, this very second I am triggered to write a post while the dawn is up, alongside with the first crowing of the chickens which belong to the guy next door. It is not that I am suffering from the lack of activities term. Because in fact, I am no longer a jobless fresh-graduate. Felicitation!

I will update you later about what I do for the living. But the idea that I somehow am going to bump into the next intriguing chapter of my life. is tacitly bloodcurdling. That same sense as if I am about to get onto the kind of stage which requires me to rehearse regularly, to consummate the smooth performance.

That is the concept of living that makes me smile. To be able to get up from the facade of successfulness and to live in the brass tacks. Shout to every human being who just crawl to the same stage!

Advertisements

Tertawan dalam Wajan

Belakangan ini aku diganggui oleh suatu pemikiran yang menggelitik, yang sebenarnya begitu ingin saja kutampik. Namun nalar tak hentinya mengira-ngira meski dalam tempurung kura-kura. Kubacai banyak buah pikir orang-orang yang dalam berbagi ilmu tak begitu kikir. Tetap saja, malah semakin.

Kali ini lagi-lagi aku akan berbagi perihal apa yang terasa dan terpikir tentang perempuan. Seiring angka di bilangan umurku berubah, semakin juga tak kudapati pemahaman renyah tentang mengapa makhluk dengan tete berayun di bagian depan tubuhnya ini selalu saja menjadi buah bibir. Tidak melulu oleh kaum komplementernya, lelaki, namun oleh kaum sejenisnya sendiri. Perempuan dibicarakan, tidak hanya oleh laki-laki, namun juga oleh perempuannya sendiri. Menarik, ya?

Menarik lagi ketika mengambil salah satu premis umum perihal apa-apa yang kerap dibahas, khususnya oleh kaum papa. Tubuh. Bukan susunan anatomi, tidak banyak pula bahasan penting serupa fungsi biologis. Hanya tentang seberapa menyenangkan tubuh perempuan itu dipandang. Tubuh, dari bagian rambut hingga tai kuku jempol kaki. Dari cara bersolek hingga bau kentutnya, tak akan habislah umat manusia membicarakan perempuan hingga air liur terakhir terjun jadi ilar pengundang lalar.

Perbincangan tentang tubuh perempuan tidak sesederhana manifestasinya yang berupa pelengkap masturbasi saja, lebih ekstrem dapat memasuki ranah dogma fundamental seperti kepercayaan bahwa lelaki yang memperistri perempuan jelek maka jeleklah peruntungannya. Sekejam itu. Wanita jelek dianggap pembawa sial. Lalu bagaimana nasib perempuan bodoh, malas, kikir, sebagai jimat lelaki? Apakah lebih dari sekedar pembawa sial, mereka pembawa maut?

Perempuan akanlah harus mengkhawatirkan ekspektasi banyak orang tentang esensi dari keberadaannya. Jika menjadi perempuan yang sedikit menolak untuk memenuhi mimpi siang bolong orang-orang, siap-siap dianggap perempuan yang tak cakap.Siap-siap dianggap sebagai perempuan yang pantas diduakan oleh pasangannya, atau lebih parah sebagai perempuan yang tak akan mendapat jodoh. Perawan tua.

Menjadi perawan lebih lucu lagi. Kau tidak boleh tidak perawan di umur yang begitu muda, namun lebih buruk lagi jika kau perawan di umur yang begitu tua. Begitulah perempuan ibarat buah yang harus dipetik saat matang. Tidak boleh terlalu mentah, apalagi membusuk di ranting dan jadi kudapan kelelawar insomnia.

Menjadi perempuan adalah menjadi yang kedua. Yang tidak mewariskan nama keluarga. Tidak pula berada di garda depan ketika menjalankan ibadah kepada sang pencipta. Menjadi perempuan adalah tidak bernama, menoleh ketika dipanggil dengan nama suamimu ‘Bu Bambang ‘ atau sebagai ibu dari anakmu, ‘Mamah Joko’.

Tapi hati-hati, meski tidak memiliki identitas yang berarti, perempuanlah si penyebab keburukan akhlak bagi umat. Perempuan yang salah mengenakan potongan kain untuk tubuhnya sehingga membuat laki-laki yang begitu santun dan beradab menjadi lupa dan purba. Perempuanlah si penggoda, penyihir bergincu dan penggunjing yang sulit pensiun.

Semuanya keliru, kecuali jika kau sedang bergelut dengan panasnya wajan di atas tungku.

Problem

So when you think that everything is falling apart. When you feel that you are incapable of doing the things you’ve planned. The minute you think that no matter how hard you try, you cannot be a better person you always want to be. When that moment comes, what should you really do?

I’m a person who tend to complain about everything. I’m not that strong. I always feel that nobody loves me, that they do not really care. That i am not worth the bright future i dream of. What is the real problem, exactly?

One is not depressed because he cannot solve his problem, it is because he does not really know the problem.
Do i know my problem?

Harga Sebuah Kepercayaan?

Berapa banyak manusia yang dapat merapalkan harga sebuah kepercayaan? Bisa jadi beribu interpretasi. Tapi, sayang, seberharga apa kepercayaan bagimu?

Kepercayaan bukan hal yang akan menemui titik jemu dalam upayanya untuk terus berevolusi di dalam tempurung kepalaku. Kepercayaan bagiku tidak semudah membilang satu, yang kemudian disisipkan berdampingan dengan variabel lainnya, menjadikannya sebuah bilangan baru.

Kepercayaan pun tak dapat kau beri perona merah jambu agar tampak cantik saat dengan mantap kau mengucap; aku percaya padamu; percayalah padaku. Tidak, sayang, dengan angkuhnya meminta orang untuk menumbuhkan kepercayaannya terhadapmu adalah hal yang egois dan gegabah.

Lalu seberapa berharganya sebuah kepercayaan bagimu, jika kau dengan mudah memintanya lalu sejurus kemudian kau menarik pelatuk dan memuncratkan lendir bernama pengkhianatan? Meninggalkan luka menganga, membiarkanku bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi, membuatku begitu delusional berharap bisa kutarik benang waktu agar tergulung rapih kembali.

Berbekal balutan senyum manis dan apologi puitis, bisa saja kau meredam apapun luapan emosi negatif yang secara reaksioner akan muncul. Tapi, sayang, tahukah kau seberapa besar harga sebuah kepercayaan?

 

Perempuan?

Jika kita dilahirkan dengan susunan anatomi yang pada hari ini membuat kita tergolong dalam label kelamin ‘perempuan’, lantas apakah kita mengemban tanggung jawab untuk melindungi bagian-bagian tubuh tersebut dengan se-protektif mungkin agar tidak menjadi bahan observasi orang lain untuk kepentingan pribadi mereka?

Mungkinkah kita dapat merasa nyaman dengan tubuh kita, karena kita perempuan?

Apakah tindakan menyinggung dan tidak pantas terhadap segala bagian dari tubuh kita, merupakan salah payudara dan pinggul kita yang menonjol?

Apakah memiliki bagian-bagian tubuh yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang terdivisi dalam jenis kelamin lain, membuat kita lantas sebaiknya diam ketika mereka merasa pantas untuk mencari tau perihal apa yang tidak mereka miliki?

Bukan salah kami, memiliki paha sintal dan payudara segar, bokong yang jelas tercetak pada celana jeans kami. Bukan salah kami dan bukan lantas kami harus menutupi segala bagian tubuh kami yang ‘mengundang’ guna menghindari pelecehan.

Bukan.

Pun jika kami dengan senang hati mengizinkan laki-laki menggerayangi dan mencari tau bagian-bagian tubuh kami yang tidak mereka miliki, itu akan berlandaskan kesadaran dan kepentingan pribadi kami. Tanpa intimidasi, tanpa basa-basi.

Namun, jika seorang perempuan bersikap manis kepada laki-laki, jika seorang perempuan bertutur laku halus dan memberi perhatian layaknya bunda maria–kepada lelaki, bukan berarti dia akan dengan senang hati dijadikan objek penelitian kepuasan birahi laki-laki. Bukan.

Jika hidup ibarat bermain peran, mainkanlah peranmu dengan maksimal. Jadilah karakter yang harus kau jiwai, sepenuhnya. Sesuai dengan latar tempat dan latar waktu yang telah ditentukan sang sutradara, sesuai dengan plot yang telah disuguhkan si pembuat naskah. Maka, berikanlah kami kesempatan untuk memainkan peran kami.

Jangan dihalangi, jangan selalu melibatkan birahi.

Penyiar dan Mimpi-mimpi Masa Kecil

Jika malam ini ada yang kebetulan berpapasan denganku, entah di jalan, di tempat makan atau ketika aku sedang membeli roko eceran, maka mereka akan memasang wajah heran melihat cengiranku dari telinga kanan ke telinga kiri. Aku tidak bisa, tidak ingin, tidak akan melepaskan rona sumringah di wajah tembamku malam ini. Setidaknya malam ini, seharian ini, aku senaaaang!!

Sangat senang.

Bukan, aku bukan senang karena kata-kata picisan pria pemuja selangkangan yang penuh ilar di mulut.

Aku hanya senang karena dua hari terakhir ini setidaknya aku telah melakukan sesuatu untuk tujuan yang pernah kuimpi-impikan semenjak lama, semenjak aku bahkan belum mengerti apa itu datang bulan.

Menjadi penyiar radio, adalah salah satu mimpi yang kugantungkan lebih tinggi dari antena tv. Semenjak kecil hidupku tidak pernah terlepas dari ketertarikan akan dunia penyiaran. Bahkan jika pada akhirnya aku tidak menggeluti hal tersebut secara akademis, karena aku lebih memilih untuk menggarisbawahi mimpiku yang lainnya–menjadi seorang diplomat–namun tetap saja hatiku berdebar jika berada begitu dekat dengan segala unsur penyiaran.

Aku tidak malu, apalagi menyesal, bahwa aku merupakan satu-satunya peserta Boothcamp Bhinneka Radio tertua yang ikut berproses selama dua hari di Sekolah Bhinneka Ceria. Aku hanya begitu bahagia akhirnya dapat melakukan hal yang begitu kusukai, begitu kudambakan.

Aku tidak banyak menggilai hobi-hobi yang spesifik, pernah kucoba belajar menggambar namun hal yang masih kuingat hingga hari ini hanyalah bagaimana membentuk karakter kartun jepang tanpa badan, tanpa badan. Aku selalu berusaha untuk dapat memainkan alat musik, namun jari-jariku kelewat kaku dan aku kelewat cengeng untuk membiarkan buku jariku merasakan perih hingga kapalan. Namun ada beberapa hal yang tidak pernah tega untuk kutinggalkan; membaca, menulis, dan mendengarkan radio.

Setidaknya malam ini sudah kumiliki bukti jejak kecilku yang membawaku semakin dekat pada kegemaranku, aku ternyata dapat membuat Iklan Layanan Masyarakat (ILM) bersama teman satu reguku, aku ternyata dapat menyentuh mixer yang biasa digunakan dalam penyiaran radio, aku pun dapat berpura-pura melakukan proses opening di depan beberapa orang. Itu loh, opening adalah script yang dibacakan oleh penyiar ketika baru membuka suatu program radio. Aku sering berpura-pura menjadi penyiar, berpura-pura membacakan request pendengar dan berpura-pura melakukan hal nyata atas mimpi masa kecil. Namun hari ini, setidaknya, proses yang kulakukan sama sekali bukan pura-pura 🙂

*tulisanku memang tidak mencerminkan suatu hasil pemikiran yang cerdas dengan diksi yang luar biasa rumit dan khas dengan unsur ‘intelektual’. tulisanku mungkin hanya dimaknai sebagai curhatan perempuan alay yang umurnya bahkan sudah tidak remaja lagi. setidaknya, aku senang :))

Menyingkap Sikap

Entah bagaimana,

tidak ada yang terencana,

malahan jauh dari rancangan semula.

Harus diakui, walaupun sebenarnya bagiku teramat memalukan, teramat memilukan.

Tanpa tedeng aling-aling, tanpa perlu merapal banyak purnama, aku terseret untuk rindu.

Rindu ini menjijikan, buatku.

Aku sadar, aku tidak ingin sadar. Seolah ingin kutelan saja berbagai upaya yang terjamah dari kerling matamu, liar!

Kupikir pertama kali aku hanya sekedar memilihmu sebagai buaian karena berbagai rasa kagum yang entah bagaimana tumbuh, sialnya kemudian merambat. Kekaguman akan upayamu dalam memahami kehidupan, memaknai berbagai kebingungan, menjawab pertanyaan-pertanyaan akan perasaan yang kau percaya memiliki arti, yang kemudian segalanya begitu tendensius bagimu untuk meniti hal yang kusebut sebagai mimpi. Kemudian bagiku kau begitu sederhana, mengingatkanku akan manusia, membuatku lupa akan siapa.

Membuatku ingin melepas batas antara benar dan salah, membuatku ingin, hanya ingin.

Lalu kau membuang sifat halusinogen yang kukaitkan padamu, menjambak anganku dengan mengungkit waktu. Betapa kita telah keliru, betapa semuanya hanyalah sebatas nafsu, betapa kau tak sudi menjadi bagian dari narasi remeh temeh milikku. Kau hanya meminjam waktuku, tak kan ada yang kau ingat, katamu. Sesederhana ini mendefinisikan biru, dalam kompleksitas senyum dan jabat tangan yang dilumuri tawa palsu.

Pada akhirnya aku harus menoleh pada kenyataan, harus konsisten pada pendirian. Kemarin, hanyalah pelarian. Kau dan aku, persetan!

PIL PAHIT

Menginjak stase kehidupan yang semakin rumit, menapakan kaki pada realitas kehidupan yang mencengangkan, malam ini hanya beberapa orang terbaik saja yang benar-benar tulus mengingat hari lahirku. Namun kubuang jauh-jauh pikiran akan selebrasi, apalagi pikiran untuk bersedih-sedih ria meratapi beban hidup. Lebih dari itu, kuputuskan untuk menggodok rasa. Mematangkan hati dan menajamkan pikiran, mengasah kecakapan akan memilah rasa. Hari raya habis dalam sehari untuk dinikmati dan dilebih-lebihkan, namun pencarian akan kesejatian diri, kesempatan untuk berkontemplasi bukan remeh temeh yang bisa dilingkari dengan spidol merah di kalender.

Kumantapkan hati untuk mengucap syukur ketika beberapa menit sebelum jarum jam terpaku sejenak di angka 12 dan membawa rotasi bumi pada hari lahirku yang ke-23, celoteh polos saudara seperjuanganku mengalir deras mengenai realita yang terjadi di sekitar wadahku berproses. Tumpul! Sungguh begitu tumpul daya analisisku selama ini menangkap, mengikat dan menyayat berbagai keresahan yang nyata dan menjijikan.

Bunga dan Tembok – Wiji Thukul

Seumpama bunga

kami adalah bunga yang tak
kau kehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah
seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kau kehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi
seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri
jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!
dalam keyakinan kami
di mana pun –tirani harus tumbang!

Apalah

Persis, seperti bulu-bulu halus ilalang

Yang menempeli kulit kala angin merayu

Persis, seperti bau keringat Bapak

Yang menempel pada tubuh anak yang girang menyambutnya pulang

Aku goyah, kaki boncelku seolah batang mawar

Yang renta tak mampu lagi menopang mahkota yang terlalu mewah

Aku lemah, hanyut dalam sapuan gelombang rasa gamang

Yang dengan lugunya kubangun sendiri perlahan dari ketiadaan

Awan selalu mengutuki diri sendiri, ketika tak mampu ditariknya lagi butiran-butiran kecil hujan

Yang berderu terperas, terlepas ketika raganya menyentuh akhir batas

Lalu aku mengukir garis melengkung palsu pada wajah yang nyaris biru

Menambah pemanis selagi jiwa sibuk meringis

Lalu aku menyulam satu persatu kain kelambu

Menutupi malu ketika lidah kelu enggan mengaku tak mampu

Paradoks.

You may say i’m a dreamer but i’m not the only one, i hope someday you’ll join us and the world will live as one – John Lennon

Terimakasih Om Lennon atas definisi terbaik tentang seorang pemimpi dalam lagu yang kutipannya ku cantumkan tadi. Semalam aku baru saja diberi mimpi paling sempurna yang pernah terputar. Lebih tepatnya kenyataan yang disutradarai Tuhan yang terasa seperti mimpi berhiaskan katumbiri. Semalam kau nyata, setiap ciuman, pelukan, belaian dan nafas yang terasa menyapu permukaan kulit tengkuk pun nyata. Namun semua terkecap layaknya mimpi. Karena ketika aku terbangun, yang tersisa hanya bibir yang bergetar mengutuk waktu tidur yang usai.

Sayang, tanganku tegang terkepal menyadari betapa naifnya kita mengukir pola pikir terhadap satu sama lain. Saat mata kita saling menyelami pekat, saat itu kita tahu betul kenapa 5 tahun bukan lagi perihal waktu. Kita tidak pernah benar-benar bersama, apalagi mengucap cinta walau kita mengecap manisnya. Namun bagiku memilikimu hanyalah hal remeh yang tak pantas jadi urgensi, karena selama ini tidak pernah ada yang pergi, tidak pernah ada yang berhenti mencari, tidak pernah ada yang sendiri.

Jika level tertinggi mencintai adalah merelakanmu bersama orang lain, maka pantaslah kau sebutku brahmana. Si guru kasta tertinggi dalam budaya India. Tak akan kubiarkan reaksi kimia ini bercampur dengan paradoks menjijikan karena terbentur hasrat yang senyatanya hanya imaji. Biarlah sebening ini, biarlah sesuci ini, biarlah sesakit ini, biarlah serumit ini, biarlah seindah ini. Kau terlalu berharga untuk diperdebatkan, maka kuputuskan bermimpi dalam mimpi.

20140805-022718-8838831.jpg